Ngelancong Weekend

Juni 7, 2016

Napak Tilas ke Goa Epic, Goa Gajah di Sisi Sungai Gianyar

Napak Tilas ke Goa Epic, Goa Gajah di Sisi Sungai Gianyar

Ngelancongweekend.com – Goal Traveling hari pertama keliling Bali nih, Goa Gajah namanya. Begitu tiba di salah satu surga wisatawan Indonesia ini, kami segera ambil motor sewaan di parkiran – check in hotel kilat buat mandi ala kadarnya dan taro barang bawaan. Kemudian segera agogo menuju Ubud.

DSC01232-(FILEminimizer)

Matahari lagi mentereng-menterengnya, keringat segede-gede gaban bercucuran. Ada enak ngga enaknya motoran di bali, enaknya hemat & bebas macet. Ngga enakya ya keliling siang-siang gini bikin mateng Goa Gajah sendiri jadi destinasi penutup kami di hari pertama karena letaknya yang agak mojok. Berlokasi di sebelah barat Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, ngabisin waktu kira-kira 30 menit berkendara dari museum Antonio blanco, dan 26 km dari kota Denpasar.

Satu diantara destinasi yang udah saya pingin dari jauh-jauh hari nih, karena bentuknya yang unik, dan epic banget! Goa Gajah, sendiri berasal dari kata “ Lwa Gajah”, yang berarti wihara tempat pemujaan para Bhiksu umat beragama Budha. Semeentara kata “ Lwa “ berarti sungai. Kalo di artiin> pertapaan yang terletak di tepi sungai. Sungai yang mana ya? Hehe.

1111

Berjalan dari areal parkir menuju Goa Gajah Ubud, kita bakal ngelewatin pasar yang banyak ngejual kain, serta berbagai kerajinan tangan khas bali lainnya. Disini bakal banyak banget ibu-ibu yang bilang, “Masuk ke dalam mesti pakai kain, ayo beli dulu disini ayo!”. Saya sih bersikeras aja sampe loket dulu, dan nanya apa yang celana pendekan beneran mesti pakai penutup kain atau engga, dan ya bener aja sih. Tapi ternyata mereka menyediakan kain gratisan yang bisa kita pakai selama keliling destinasi ini. Yihaa, hampir aja bertambah pengeluaran untuk yang ngga perlu :)) *ngirit* *nasib traveling ala backpack* :))

Setelah selesai memakai kain pink yang super feminim J kita akan menuruni banyak anak tangga, dengan view pepohonan hijau rindang yang usut punya usut usianya udah ratusan tahun. Menyenangkannya juga suasana hijau ini, bikin kita tetap ngerasa sejuk meskipun ngider-ngider di tengah hari bolong.

DSC01208-(FILEminimizer)Berjalan dari areal parkir menuju Goa Gajah Ubud, kita bakal ngelewatin pasar yang banyak ngejual kain, serta berbagai kerajinan tangan khas bali. Disini bakal banyak banget ibu-ibu yang bilang, “Masuk ke dalam mesti pakai kain, ayo beli dulu disini ayo!”. Saya sih bersikeras aja sampe loket dulu, dan nanya apa yang celana pendekan beneran mesti pakai penutup kain atau engga, dan ya bener aja sih. Tapi ternyata mereka nyediain kain gratisan yang bisa kita pakai selama keliling di tempat ini. Yihaa, hampir aja bertambah pengeluaran untuk yang ngga perlu :)) *ngirit* *kere* :))

Setelah selesai memakai kain pink yang super feminim.. kita akan menuruni banyak anak tangga yang dikelilingi pepohonan hijau, usut punya usut beberapa pohon disini udah berusia ratusan tahun lho. Menyenangkannya juga suasan hijau ini, bikin kita tetap ngerasa sejuk meskipun ngider-ngider di tengah hari bolong.

DSC01215-(FILEminimizer)

Di Goa Gajah kita bakal nemuin bebatuan bekas bangunan yang dulunya hancur akibat gempa, juga gemericik suara air yang mengalir dari pancuran kuno di atas kolam suci. Pancuran ini memiliki patung petirtaan dengan tujuh patung widyadara–widyadari yang sedang memegang kendi. Total patungnyanya yang berumlah tujuh ini ternyata ada filosofinya, symbol dari tujuh sungai di India, tempat kelahiran agama Hindu dan Budha. Menariknya, tadinya patung ini ngga terlihat karena tertutup tanah. Tapi di tahun 1954 patung ini ditemukan setelah sebelumnya dilakukan penggalian. Keenam patung yang memancarkan air ke dalam kolam tersebut dipercaya merupakan perlambangan kesuburan, lho.  Yo, yang mau cepet punya momongan jangan lupa cuci muka di muaranya :p

Goa gajahnya sendiri terletak ngga jauh dari pancuran, dengan pintu masuk yang cuma cukup buat 1 orang. Diluarnya terdapat ukir–ukiran super duper epic dan 2 patung penjaga. Saya sampai terhenti sebentar untuk mengagumi. Sekilas berfikir juga, “Dulu.. goa keren banget kayagini gimana cara bikinya?” :)) Sementara Bagian dalamnya punya tinggi sekitar 2 meter dan lebar 2 meter aja, sebenarnya bisa dimasuki banyak wisatawan, cuma mungkin bakal pengap aja, secara ventilasi cuma dari pintu masuk. Saya sendiri ngga berlama-lama di dalam, setelah melongok ke setiap sudutnya segera memberi ruang ke wisatawan lain untuk masuk dan menikmati

DSC01221-(FILEminimizer)

Selain bangunan-bangunan Hindu, kompleks bangunan ini juga memiliki banyak peninggalan-peninggalan Budha yang umurnya bahkan lebih tua dari bangunan-bangunan Hindu sendiri. Di bagian luar gua, terdapat patung Dewi Hariti/“Men Brayut”. Patung yang sangat unik karena memangku banyak sekali anak kecil. Dalam mitologi Budha, Hariti dulunya adalah seorang kanibal yang suka memangsa daging anak-anak atau bayi. Namun, setelah mendapatkan pencerahan dari sang Budha, sosok yang sebelumnya sangat menakutkan itu kemudian berubah menjadi seorang yang taat beragama dan mencintai anak-anak.

Jalan kebawah sedikit, ada lagi mata air yang mengalir, serta banyak gua kecil dan taman. Jangan khawatir yang ngga sempat bawa minum, dan kehausan karena banya yang berjualan Soft drink dan berbagai makanan ringan di kawasan gua.

Hm.. kunjungan ke Goa Gajah, jadi pengalaman yang menarik banget buat gowut. Sehabis ngobrol sama bapak ini dan minta ijin buat motret dia, dia ketawa lebar banget sambil bilang.. “Yah, jelek dong nanti fotonya kok malah motoin saya sih”. Duh, ekspresinya menyenangkan betul. *Nyengir dulu ah* 😀

DSC01259-(FILEminimizer)

*Info Tambahan

Alamat:  Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatu, Kabupaten Gianyar, Bali. Berjarak kurang lebih 27 km dari Denpasar

HTM: 15.000/Orang, Parkrir Motor: Gratis

0 likes Bali # , , , , , ,
Share: / / /

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *